Menilai Kompetensi Sumber Daya Manusia Prespektif Al-Quran

menilai sumber daya manusia
Selain sumber daya alam, perusahaan juga butuh sumber daya manusia untuk menjalankan bisnisnya. Jangankan bisnis, alam pun butuh manusia.

Dukref NewsKeberadaan manusia dalam kehidupan memiliki posisi yang sangat penting, karena keberhasilan hidup seseorang sangat ditentukan oleh kualitas manusia itu sendiri. Seiring perkembangan teknologi yang cepat pada setiap aspek kehidupan manusia, maka kompetensi seseorang menjadi nilai jual dirinya untuk dapat berkiprah sesuai dengan keinginannya.

Kompetensi merupakan kumpulan sumber daya manusia yang secara dinamis menunjukkan kapasitas intelektual, kualitas sikap mental, dan kapabilitas seseorang. Kompetensi merupakan modal awal yang harus dimiliki seseorang untuk dapat melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Membahas kompetensi sumber daya manusia, berarti membahas pula karakteristik sumber daya manusia, dalam hal ini manusia yang berkualitas yang dapat menyokong efektivitas kinerja sebuah perkumpulan masyarakat yang bisa kita sebut sebagai organisasi.

Perkembangan kompetensi yang semakin luas dari sumber daya manusia memastikan bahwa manajemen sumber daya manusia memegang peranan penting dalam kesuksesan organisasi. Salah satu tugas manajemen sumber daya manusia yaitu mengupayakan agar kinerja anggotanya dapat terus meningkat dan terus menjadi lebih baik sesuai dengan kebutuhan organisasi. Oleh karena itu kompetensi personalia menjadi aspek penting untuk dibahas dalam hal peningkatan kinerja.

Kompetensi merupakan salah satu faktor yang membedakan anggota yang mampu menunjukkan kinerja optimal dengan anggota yang tidak. Anggota yang kompeten memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik sehingga mereka bisa memanfaatkan potensi-potensi yang mereka miliki dan mampu memahami apa yang harus dikerjakan, serta bagaimana cara mengerjakannya. Hanya saja, kompetensi tersebut akan menjadi tidak berguna apabila anggota yang bersangkutan tidak mampu menterjemahkan kompetensi yang dimilikinya ke dalam perilaku kerja yang efektif.

Kompetensi dalam Sudut Pandang al-Quran

Di samping itu, Al-Quran turut mengisyaratkan adanya kompetensi yang terkandung dalam diri manusia. Hal itu tergambar jelas dalam isyarah kisah Nabi Musa as yang tertuang dalam surah al-Qashash ayat 26;

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ ﴿القصص : ۲٦﴾

Artinya: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (Al-Qashash : 77).

Quraish Shihab menjelaskan dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Misbah, bahwa dua anak perempuan (anak Nabi Syuaib) yang ditolong oleh Nabi Musa as merasa kagum kepadanya. Bermula dari kekuatan fisik dan dan wibawanya saat mengambil air untuk ternak mereka di tengah kerumunan orang banyak. Setelah pulang, salah seorang dari keduanya kembali menghampiri Nabi Musa dan menyampaikan keinginan orang tuanya, Nabi Syuaib as, untuk mengundang nabi Musa agar dapat membalas semua kebaikannya.

Setelah Nabi Syuaib bertemu dengan Nabi Musa dan menjamu serta menjamin keamanannya, kemudian salah seorang putri Nabi Syuaib meminta ayahnya untuk mempekerjakan Nabi Musa agar meringankan beban keluarganya, sebagaimana dikisahkan ayat di atas. Motif di balik permintaan itu sebagaimana diuraikan di akhir ayat, adalah kompetensi yang ada dalam diri musa berupa kekuatan dan dapat dipercaya.

Berdasarkan ayat ini, Quraish Shihab menjabarkan bahwa kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan dalam berbagai bidang. Karena itu, terlebih dahulu harus dilihat bidang apa yang akan ditugaskan kepada yang dipilih. Selanjutnya kepercayaan yang dimaksud adalah integritas pribadi yang menuntut adanya sifat amanah sehingga tidak merasa bahwa apa yang ada dalam genggamannya merupakan milik pribadi. Akan tetapi milik pemberi amanat yang harus dipelihara dan bila diminta kembali maka harus rela mengembalikannya.

Selain itu, Ibnu Taimiyah dalam bukunya as-Siyasah asy-Syar’iyyah juga menyebutkan kisah yang selaras tentang Nabi Yusuf sebagaimana disebutkan dalam surah Yusuf ayat 54-55;

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ ﴿٥٤﴾ قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ ﴿٥٥﴾ ﴿يوسف : ٥٤-٥٥﴾

Artinya: “Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami”. (54) Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (55). (Q.S. Yusuf : 54-55)

Quraish Shihab menyebutkan setelah Raja Mesir mendengarkan penjelasan Yusuf akan mimpinya dan ia merasa puas terhadap jawaban Yusuf, Raja lantas menyuruh memanggil Yusuf ke hadapannya agar dijadikan orang terdekatnya serta penasihat dan pembantunya dalam mengurusi roda pemerintahan. Setibanya Yusuf, keduanya pun terlibat percakapan serius yang pada akhirnya sang raja merasa terkagum-kagum akan kedalaman pengetahuan Yusuf. Hal itulah yang kemudian menjadikan Raja optimis memberikan kedudukan yang tinggi dan mempercayakan segala urusan negara kepada Yusuf, sebagaimana potongan ayat, innakal yauma ladaina makinun amiinun. 

Namun, Nabi Yusuf karena sadar akan kompetensi dirinya, ia lebih meminta kepada raja untuk dijadikan sebagai bendaharawan negara. Lanjutan ayat setelahnya menjadi bukti akan hal itu, qaalaj ‘alni ‘ala khazainil ardhi. Dilatar belakangi oleh kompetensi Yusuf berupa amanah dan wawasan ilmu pengetahuan yang mendalam, inni hafidzun ‘alimun.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa tugas yang akan diemban oleh seseorang harus sesuai dengan kompetensi yang ada dalam dirinya. Ditegaskan pula oleh Quraish Shihab, bahwa ayat tersebut lantas menjadi legitimasi seseorang dalam meminta jabatan. Dengan ketentuan, permintaan tersebut lahir atas dasar pengetahuan bahwa tidak ada yang lebih tepat dari dirinya. Apalagi permintaan tersebut termotivasi atas dasar menyebarkan dakwah ilahiah. Bahkan, ulama lain menegaskan bahwa permintaan Yusuf tersebut menunjukkan akan kesederhanaan pribadi Yusuf. Sebab, awalnya Yusuf ditawarkan segala bentuk urusan pemerintahan, namun ia malah lebih memilih untuk fokus mengurusi pembendaharaan negara.

Pengaruh Kompetensi terhadap Kinerja SDM

Kompetensi dikatakan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang. Semakin tinggi kompetensi yang dimiliki maka kinerja orang tersebut akan meningkat. Kinerja seseorang dapat dilihat dari kompetensi yang dimilikinya, oleh karena itu diharapkan seseorang memiliki kompetensi yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya sehingga dapat menghasilkan kinerja yang maksimal di tempat tugasnya.

Kompetensi mempunyai hubungan sebab akibat (causality related) jika dikaitkan dengan kinerja seseorang. Di lain hal kompetensi yang terdiri atas: motif (motive), sifat (trait), konsep diri (self concept), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge) dapat memprediksikan perilaku seseorang, sehingga pada akhirnya dapat memprediksi kinerja orang tersebut.

Selanjutnya, kompetensi seseorang termasuk dalam kategori tinggi atau baik nantinya akan dibuktikan dan ditunjukkan apabila ia sudah melakukan pekerjaan. Sebaliknya, apabila mempunyai kompetensi tingkat rendah, ia akan cenderung berkinerja rendah pula.

Kompetensi intelektual, emosional, dan sosial sebagai bagian dari kepribadian yang paling dalam pada seseorang yang dapat memprediksi atau mempengaruhi keefektifan kinerja individu. Kompetensi dan kinerja yang tinggi memberikan isyarat bahwa suatu organisasi dikelola dengan baik dan secara fundamental akan menghasilkan perilaku manajemen yang efektif. Inti utama sistem kompetensi adalah sebagai alat penentu untuk memprediksikan keberhasilan kerja seseorang. Pendekatan kompetensi dapat dijadikan patokan untuk menilai proses kerja sumber daya manusia yang ada. Dengan hadirnya sumber daya manusia yang kompeten, niscaya kinerja organisasi akan berbuah hasil yang maksimal.

Ditulis oleh: Moh. Abdul Majid

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.