Mahasiswa dan Problematikanya (Skripsi)

problematika tugas akhir
Tugas akhir atau skripsi menjadi hal yang ditakutkan oleh mahasiswa/i di kampus. Lantaran tugas ini penentuan mereka lulus atau tidak.

Dukref News – Bait-bait paragraf ini adalah tentang mahasiswa. Tentang bagaimana kehidupan mereka di dunia perkuliahan yang penuh tantangan. Mulai dari rasa malas, ajakan teman-teman untuk bermain, atau bahkan kebucinan di luar batas.

Mahasiswa dengan segala problematika kehidupannya kadang amat jarang diliput oleh media masa. Ada berapa banyak artikel yang membahas terkait mereka? Menyuarakan suara hati mereka tentang sulitnya menjalani kuliah di perantauan, atau bahkan sulitnya konsultasi skripsi dengan dosen bimbingan.

Read More

Skripsi merupakan sekumpulan kertas berupa tulisan ilmiah yang menjadi syarat wajib untuk mendapat gelar sarjana. Tanpa skripsi, maka jangan bermimpi diberi ijazah. Padahal kalau dipikir-pikir setelah 4 tahun pontang-panting di bangku kuliah, kenapa harus skripsi yang menjadi patokan kelulusan seorang mahasiswa?

Banyak mahasiswa yang pintar dengan IPK (indeks prestasi komulatif) tidak kurang dari 4,00, tapi kemudian harus berjalan di tempat, tidak bisa wisuda tepat waktu hanya karena masalah skripsi. Masalah itu kadang tidak muncul karena rasa malas si mahasiswa. Tapi dari dosen yang katanya selalu sibuk.

Bukankah ini seharusnya menjadi pertimbangan Kementerian Pendidikan untuk meninjau kembali syarat-syarat kelulusan seorang sarjana. Jika memang skripsi tetap diwajibkan bagi mahasiswa akhir, harusnya seorang dosen bimbingan cukup bertanggung jawab untuk membimbing mereka hingga lulus tepat waktu. Bukan malah egois dan memberi tugas di luar kemampuan si mahasiswa.

Saya masih ingat pada saat saya bimbingan skripsi, salah satu dosen berkata “saya gak mau kasih judul yang berat untuk mahasiswa, biarlah dia memilih judul berdasarkan kemampuannya sendiri. Kalau saya kasih judul, takut nya dia malah gak mampu”. 

Bukankah pemikiran seperti ini terlihat bijak? Tapi sayangnya kita kembali kepada kenyataan bahwa setiap manusia berbeda.

Tidak berhenti pada proses pemilihan judul, ada pula masa revisi. Revisi berulang dan banyak tentunya menjadi tekanan tersendiri bagi mahasiswa. Beban yang amat berat ditambah lagi bertemu dosen yang tidak tepat. Dosen yang bagaimana dikatakan tidak tepat? Dosen yang egois, selalu banyak mau tapi lupa bahwa mahasiswa tidak mampu. Tidak jarang mereka menuntut mahasiswa untuk lulus tepat waktu, tapi ketika diminta bimbinga katanya “nanti-nati dulu”. Sibuk selalu menjadi alasan yang harus dimaklumi.

Setiap mahasiswa pasti tahu bahwa tugas dosen bukan duduk manis lalu terima gaji. Tapi ada banyak pula amanah yang dibebankan ke pundak mereka. Akan tetapi, bukan kah bimbingan dengan mahasiswa juga termasuk kewajiban? Dosen yang sedang sibuk kadang hanya meminta mahasiswa meletakkan skripsinya di atas meja, “nanti Saya baca” katanya. Tapi ditunggu berhari-hari kok tidak ada kabar sama sekali? “aduh, Saya lupa”. Lihat, si mahasiswa hanya bisa menggigit jari sambil memaki di dalam hati.

Kadang rasanya ingin mengadu kepada Pak Nadiem (Menteri Pendidikan) betapa untuk mendapat sehelai ijazah itu amat sangat sulit sekali. Empat tahun belajar siang dan malam agar IPK selalu tinggi terasa sia-sia karena semuanya hanya ditentukan oleh skripsi. Tapi keinginan tersebut hanya tinggal khayalan belaka. Karena desas-desus di sana sini mengatakan itu tidak perlu. Lagi pula terlalu banyak bicara juga tidak baik di dunia yang semakin pelik. Bagaimana tidak, penjara tidak mengenal si cantik, apalagi si buruk rupa. Niat hati ingin menyampaikan aspirasi, malah berakhir di balik jeruji.

Di balik berbagai macam alasan dosen menyulitkan mahasiswa, ada satu alasan yang amat menggelitik “dulu waktu Saya skripsi dek, Saya juga dipersulit sama dosen, jadi Saya terapkan hal yang sama kepada Kalian”. Ya Tuhan, dosa apa yang telah diperbuat oleh mahasiswa sehingga mereka diminta untuk menanggung sakit hati orang lain? Ingin sekali rasanya membantah perkataan-perkataan itu. Tapi sayangnya mahasiswa harus kembali ke realita bahwa dosen selalu benar.  Ah, stigma yang amat sangat tidak masuk akal.

Mungkin karena stigma yang sudah tertanam terlalu dalam itulah yang membuat dosen suka semena-mena. Merasa paling benar hingga mengabaikan pendapat mahasiswa. Dosen selalu meminta mahasiswa untuk menjaga adab. Tapi seperti nya mereka lupa bahwa kepada mahasiswa mereka juga harus beradab. Saya yakin, sebagian besar dosen akan mekritik artikel saya habis-habisan. Tapi Bapak/ibu, Saya tidak meminta kritikan, melaikan perubahan pada diri setiap pengajar agar ke depan lebih baik lagi. Saya tahu bahwa tidak semua dosen berkarakter demikian, tapi yang paling banyak viral yaa yang seperti itu.

Mereka yang selalu dikeluhkan oleh mahasiswa. Mahasiswa sudah jungkir balik dengan skripsi siang dan malam, tapi tetap saja masih dipersulit? Dari hati yang paling dalam Saya bertanya “mengapa? Apa yang Kalian harapkan dari skripsi kami? Berharap kesempurnaan kah? Kesempurnaan macam apa yang mampu kami berikan? Kami hanya ingin lulus tepat waktu, karena orang tua di kampung sudah bertanya berulang kali, bahkan muncul pertanyaan “masih harus bayar SPP lagi?’, padahal kami terlambat bukan karena kami malas.”

Yah, begitulah akhir dari curhatan panjang yang besar harapan Saya bisa sampai kepada Bapak Menteri Pendidikan. Jika tidak memberi perubahan, maka setidaknya motivasi kepada mahasiswa yang rasanya ingin mati hanya karena masalah skripsi. Iya, benar sekali. Amat sangat banyak mahasiswa yang depresi. Tekanan muncul dari berbagai sisi. Pertanyaan di sana-sini rasanya tidak mampu dijawab lagi. Mengapa orang-orang tidak mengerti? Bahwa yang mereka butuhkan sebenarnya adalah dukungan, bukan pertanyaan “kapan?”.

Ditulis oleh: Akrima Sabila

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.