Remaja di Tengah Badai Peredaran Narkoba

Remaja di Tengah Badai Peredaran Narkoba
Dunia terus berkembang. Saat ini remaja sedang berada di tengah badai peredaran narkoba. Lantaran rata-rata bandar narkoba di usia remaja.

Dukref News – Remaja di Tengah Badai Peredaran NarkobaManusia memiliki tanggung jawab yang besar atas dirinya sendiri. Manusia sebagai pemangku kebijakan sekaligus pelaksana dalam mengelola bumi (khalifatullah fi ardhi) haruslah terlebih dahulu pintar mengelola dirinya sendiri. Manusia akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat nanti perihal segala yang diperbuatnya selama di dunia. Baik dan buruk adalah dua sisi kehidupan yang berpotensi manusia pilih dan jalani. Manusia dengan ambisi dan nafsu syahwatnya mudah terjerumus ke lembah keburukan. Begitu pula, dengan akal dan hatinya, manusia akan mudah meniti jalan menuju kebaikan.

Sementara itu, dalam pengembaraan diri menemukan jalan kebaikan yang dipilih dalam hidupnya, manusia harus melewati fase-fase pertumbuhan yang rentan mengalami gangguan. Fase tersebut ialah fase remaja, yang dalam istilah psikologi disebut dengan adolescence yaitu masa transisi setiap individu yang mengalami perubahan baik fisik maupun psikis dari fase anak-anak ke fase dewasa. Dalam pandangan bapak psikologi, Stanley Hall, memasuki masa remaja bagi seseorang ibarat seperti lahir kembali. Hal itu ditandai dengan perubahan yang sangat menonjol dengan cepat, mulai dari kepribadiannya, aspek biologisnya, termasuk sikap sosialnya yang cenderung eksplosif dan bergelora.

Sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, masa remaja sering mendatangkan kekhawatiran sehingga disebut sebagai usia bermasalah. Usia kaum remaja berkisar antara 11 sampai 20 tahun. Disebut bermasalah sebab kaum remaja mulai memiliki sikap dan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan apa yang dia inginkan, bukan sebagaimana adanya. Mudahnya, para remaja ingin bersikap dan berperilaku layaknya manusia dewasa, namun dengan cara dan sudut pandang seperti anak-anak. Masa remaja memang menimbulkan anggapan stereotip budaya yang terkesan buruk, brandalan, bahkan merusak. Oleh karena itu, kewaspadaan dan perhatian keluarga – utamanya orang tua – bagi anak di usia remajanya seharusnya mendapatkan takaran yang lebih ekstra.

Saat ini ancaman terbesar bagi kaum remaja adalah penyalahgunaan narkoba. Narkoba – yang dalam bahasa kedokteran ilmiah lebih sering disebut dengan Napza (Narkotika, Psikotoprika, dan Zat Adkitif lainnya) – adalah candu terburuk remaja milenial zaman ini. Gencarnya teknologi informasi, komunikasi, transportasi, dan sebagainya semakin mempermudah kalangan remaja mengonsumsi narkoba bahkan ikut memasarkannya. Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis data di tahun 2021 sebanyak 57% dari total pengguna narkoba di seluruh Indonesia adalah kaum remaja. Bahkan, dari angka yang sangat tinggi tersebut, 47,1 persen di antaranya berstatus sebagai pengedar.

Fakta ini sungguh miris. Bagaimana tidak, generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa ini, yang justru banyak meracuni bangsanya sendiri. Saat diwawancarai, rata-rata kaum remaja terjerumus dalam transaksi barang haram tersebut, didasari pada tiga faktor; Pertama, faktor internal keluarganya, kedua, faktor eksternal lingkungan atau teman sebayanya, dan ketiga, faktor ekonominya. 

Dari sisi keluarga, rata-rata pengguna dan pengedar narkoba dari kalangan remaja adalah mereka yang mengalami broken home. Tidak bisa dipungkiri, tanpa pengawasan orang tua dan keluarga seorang remaja akan menjadi liar sebagai fitrah dari fase remaja yang dijalaninya. Apalagi jika memang suasana kekeluargaan di rumah sudah tidak lagi harmonis. Orang tua yang sibuk bekerja, bertengkar, hingga berujung perceraian sudah cukup menjadi benih seseorang remaja meluapkan naluri keremajaannya pada hal-hal buruk, semisal narkoba.

Sementara itu, dari aspek teman dan lingkungan sosialnya, para remaja akan mudah tergiur karena menganggap sebagai sesuatu yang baru bagi. Naluri atau inisiatif untuk menemukan dan mencoba hal-hal baru adalah salah satu sifat keremajaan yang terkadang malah disalahgunakan. BNN melansir tahapan-tahapan penggunaan narkoba bagi remaja;

1. Kompromi: Sikap menentang narkoba dengan tidak tegas dan mau bergaul dengan pengguna narkoba

2. Coba-Coba: Enggan menolak ajakan dengan dalih menghargai karena khawatir dikucilkan dari komunitas dan tidak eksis dalam kehidupan sosial

3. Toleransi: Ketika sudah berbaur dengan komunitasnya, pemakaian berulang kali terjadi dengan dosis yang semakin meningkat

4. Kebiasaan: Penggunaan narkoba sudah menjadi kebiasaan individu yang mengikat dan tidak bisa dilepaskan

5. Ketergantungan: Jika berhenti memakai atau dosis yang diberikan kurang dari biasanya, akan timbul gejala putus obat (syakaw)

6. Intoksifikasi: Mengakibatkan keracunan dan kerusakan pada organ-organ tubuh, terutama syaraf otak

Terakhir dari faktor ekonomi. Hal ini didasari pada tingginya angka pengedar narkoba di kalangan remaja. Hal ini disebabkan bahwa keuntungan dari transaksi barang haram tersebut bagi mereka terbilang besar. Sehingga gaya hidup remaja yang cenderung konsumtif dan bermewah-mewahan dapat terpenuhi dengan mudah. Maka tidak jarang ditemukan, kehidupan glamor dan foya-foya ala anak-anak remaja dimodali dari hasil pengedaran narkoba.

Oleh karena itu, seseorang remaja perlu mengenal dirinya sendiri dengan bijak, dan tentunya berdasarkan arahan dari orang-orang dewasa. Penilaian diri secara positif harus ditanamkan, dikembangkan dan dibiasakan. Penilaian diri seperti jujur pada diri sendiri, bersedia memperbaiki diri, menetapkan tujuan dan cita-cita hidup, dan selalu melakukan yang terbaik adalah kunci menjauhi ancaman narkoba. Marilah, kaum remaja, sebagai generasi bangsa yang dicita-citakan mampu membangun negeri ini di masa mendatang, jagalah jiwa, akal, dan raga kita sebaik-baiknya. Jangan rusak dengan pilihan hidup yang bodoh dan berujung penyesalan.

Ditulis oleh: Moh. Abdul Majid

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.