Santri dan Digitalisasi Dakwah

digitalisasi dakwah
Perwujudan dakwah bukan sekadar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tapi menuju sasaran luas.

Dukref News – Dakwah merupakan kewajiban dalam ajaran Islam yang dibebankan kepada umatnya. Perwujudan dakwah bukan hanya sekadar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi menuju sasaran yang lebih luas.

Di samping itu, dakwah pada saat ini harus aktual, faktual dan kontekstual sehingga dakwah dapat menjadi solusi bagi setiap problematika kehidupan manusia. Aktual berarti memecahkan masalah kekinian yang sedang hangat di masyarakat. Faktual dalam arti konkrit dan nyata serta kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Seiring pesatnya teknologi komunikasi dan informatika, pemanfaatkan teknologi berbasis digital sebagai media dakwah merupakan suatu keniscayaan.

Namun ada hal mendasar yang perlu dicatat bahwa segala bentuk digitalisasi tersebut tidak mungkin berkembang dan dikembangkan tanpa ada sesuatu yang menjadi modal untuk berkomunikasi secara fundamental. Di mana aktor yang berperan dalam perwujudan dakwah yang massif lagi efektif di era digital mampu dilakukan oleh orang yang betul-betul paham akan persoalan agama. Dalam konteks ini, maka santrilah kunci keberhasilannya.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya lagi seorang santri dibilang kolot bahkan gagap teknologi. Santri harus mampu mengimbangi segala bentuk kemajuan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari secara bijaksana. Seandainya santri di seluruh Nusantara yang jumlahnya begitu besar, dapat memanfaatkan media yang ada sebagai medan dakwah, maka tidak akan bermunculan beraneka ragam propanganda dan berita hoaks yang berseliweran akhir-akhir ini. 

Santri akan mampu mencounter hal-hal negatif yang masuk, dan sebaliknya semakin memperkokoh kaidah umat muslim Indonesia yang dipenuhi kekhasan dan nilai-nilai budi pekerti yang baik ini. Hal demikian juga tentunya harus sejalan dengan prinsip-prinsip dakwah yang tertuang dalam al-Quran. Prinsip wajib berdakwah ala Islam didasarkan kepada al-Quran surat an-Nahl ayat 125 :


ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿النحل : ۱۲٥﴾

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Nahl : 125).

Dalam konteks kajian tafsir kontemporer, penyebutan dua kata yang bertentangan mengindikasikan pada peranan konten ayat dari kedua belah pihak yang saling bersinergi. Baik dalam koridor sebab akibat, subjek objek, maupun  yang lainnya. Dalam artian penyebutan kata الْمُهْتَدِينَ yang bertentangan dengan مَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ menunjukkan peranan dakwah dalam hal orang yang terlibat di dalamnya. Orang-orang yang mendapatkan petunjuk tentunya berposisi sebagai pelaku (subjek) dalam urusan dakwah, sedangkan orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya berposisi sebagai sasaran (objek) dari dakwah.

Sehingga, berangkat dari spirit ayat di atas, maka orang-orang yang mendapatkan petunjuklah, sebagaimana santri misalnya, yang memiliki peranan utama menjalankan dakwah islamiyah. Di mana dakwah yang dilaksanakan haruslah tepat sasaran sesuai dengan metode dakwah yang dipakai. Setidaknya, jika prinsip dakwah tersebut dituangkan secara menjabar dalam keikut sertaan media digital sebagai wasilahnya, maka berikut pembagiannya;

Hikmah/Masyarakat Luas/Media Sosial

Dalam konteks ini telah disebutkan bahwa metode yang digunakan adalah metode hikmah, dengan masyarakat luas yang menjadi objeknya, dan media sosial seperti facebook, instagram, youtube dan lainnya yang menjadi wasilahnya. Artinya, dalam koridor ini santri dituntut dapat menyampaikan syiar atau pesan moral keagamaan kepada masyarakat luas dengan memanfaatkan media sosial yang ada secara masif dan mengedukasi.

Mauidhah Hasanah/Masyarakat Tersesat/Media Sosal dan mainstream

Dalam konteks ini yang ditawarkan adalah metode mauidhah dan yang menjadi sasarannya adalah orang-orang yang sudah lalai dan tersesat dari ajaran syariah. Media yang dapat dipergunakan bisa menggunakan media sosial maupun media mainstream seperti dengan menulis artikel yang dimuat di situs online resmi suatu badan pemberitaan.

Jidal/Masyarakat yang mempropaganda/Media mainstream dan forum diskusi online

Metode debat juga menjadi salah satu cara dalam menjalankan misi dakwah, hanya objeknya khusus tertuju bagi orang-orang yang mempropaganda kesesatan kepada orang lain. Media yang dapat digunakan dapat melalui tulisan-tulisan yang dimuat di media mainstream atau dengan forum diskusi online yang tersedia di media sosial atau lainnya.

Berdasarkan jabaran di atas, tidak ada alasan lagi bagi seorang santri untuk bungkam dan berdiam diri. Santri juga harus sadar bahwa kewajiban berdakwah tidak menunggu dirinya menjadi orang besar. Lakukanlah sejak dini. Hanya sembari terus mengasah diri dengan memperdalam keilmuan-keilmuan syariah sebagai modal utama dalam menjalankan dakwah.

Ditulis oleh: Moh. Abdul Majid

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.